Seberapa sering kita kecewa terhadap orang lain karena melupakan kebaikan kita? Padahal rasanya baru kemarin kita berbuat baik kepadanya. Namun apakah memang dunia sekejam itu? Mari kita coba urai apa yang bisa saja sebenarnya terjadi dari fenomena kekecewaan tersebut. Semoga ada alternatif lain untuk membuat suatu konsep hubungan timbal balik yang lebih tulus. Saya pernah melakukan survey kecil-kecilan kepada 138 followers instagram saya tentang timbal-balik kebaikan. Ternyata, hampir 90% responden yang merasa kebaikannya sering dilupakan, setuju pula bahwa kita lebih mudah mengingat keburukan orang lain dibanding kebaikannya. Untuk membuat suatu skenario yang objektif, dari hasil survey tersebut mari kita garis bawahi kedua hal tersebut: Kita lebih sering mengingat keburukan dan Kita sering merasa kebaikan kita dilupakan. Apakah kamu melihat kesesuaian dari dua hal itu? Mari kita bahas lebih lanjut. Apabila kita setuju bahwa kita lebih mudah mengingat keburukan orang lain, maka m...
Foto: pixabay.com/users/devanath Bagaimana jika aku mendapatkan merah? Ambyar.. Apakah masih ada kesempatan untukku? Bagaimana reaksi orang tuaku jika aku mengecewakannya? Apakah selama ini aku sudah berusaha sebaik mungkin? Banyak lagi ungkapan kekhawatiran yang tak bisa saya tulis satu-satu. Tapi, apakah hanya sisi merah yang pantas dikhawatirkan? Pernahkah kamu bertanya-tanya seperti itu jika kamu mendapat yang kamu harapkan? (Baca: Hijau) Jika Aku mendapat hijau, apakah ini benar-benar aku inginkan? Apakah aku bisa terus mempertahankan komitmenku? Apakah pantas kesempatan ini kuterima dimana banyak orang di luar sana yang menginginkan juga? Apakah aku benar-benar dapat berguna bagi orang lain dengan pencapaian ini? Kedua sisi koin, entah merah atau hijau, sama-sama memiliki potensi untuk dikhawatirkan. Tinggal di sisi mana kita memilih untuk terbuai oleh asumsi dan interpretasi dari pikiran sendiri yang belum tentu kebenarannya. Maka, dalam usaha membuka sebuah kenyataan, yang ...
Komentar
Posting Komentar