Postingan

Analogi lari bersama

Gambar
Gue sedang tertatih-tertatih memaksakan diri untuk terus berlari ketika melihat stopwatch di hp telah menunjukan 15 menit. "Ayo, jangan kasih kendor!" Dorongan kata-kata dari temen lari gue, Pradipa, yang posisinya tepat di samping gue. Gue paksa terus kaki gue untuk berlari. "Ayo terus, Ayo terus, Kamu pasti bisa! Rasakan Dirimu terbakar!" Kali ini ia menyertai bumbu candaan utuk meneriaki gue. Up! Up! Ampun! Gue akhirnya melambat. "Aduh.. Ayo, Boey lanjut, lah!" Pradipa yang sebelumnya sempat mendahului gue sempat berbalik mengampiri sesaat. Dia mengajarkan untuk joging dengan patokan terpenting adalah lama waktu dan peraturan agar percepatan lari tidak boleh menurun sejak awal, kecuali ingin menyudahi lari. Gue ngosh-ngoshan , dia masih mengiringi gue, "Ayo lu pasti bisa! Ini baru setegah dari patokan kita!" Foto: Dokumen Pribadi Kata-kata Pradipa tidak gue indahkan. Gue berhenti. "Lu berenti? Oke gue lanjut du...

Siapa Anda Nanti

Gambar
Ketika ayahnya seorang musisi, apakah anaknya akan menjadi musisi juga? Ketika ayahnya seorang petani, apakah anaknya juga akan menjadi petani? Tidak ada yang memastikan jalan ceritanya akan seperti itu. Walaupun sering kita temukan dan saya sendiri sudah menyaksikannya. Ayahnya penghasil susu, anaknya penghasil susu, bahkan anaknya dari anak itu pun menjadi penghasil susu. Begitu seterusnya kisah keluarga sapi tersebut. Foto: Dokumen Pribadi Kira-kira seperti itu yang teman gue, sebut saja Lala, sedang ia resahkan. Bukan resah karena menjadi seeokor sapi atau penghasil susu, tapi ia resah jika jalan kehidupannya percis seperti ayahnya. Terlebih ketika dia mendapat jurusan kuliah yang sama: kedokteran. Si Lala gak mau menjadi dokter? Tahan, bukan disitu intinya. Saat muda, Ayah Lala berkuliah di salah satu universitas terkemuka di Indonesia. Berhasil lulus hingga menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian, kariernya berbeda dengan ijazahnya. Ayah Lala 'banting stir'...